Entah bagaimana permulaan dari semua ini, semua berjalan begitu saja mengalir bagai udara yang terhirup setiap saat. Kemudian bercampur dengan desiran darah dalam tubuh berputar terus dengan siklus yang teramat rapi hingga rasanya-pun tak mampu terlukiskan. Banyak peristiwa…banyak cerita tanpa sadar dalam waktu yang lumayan panjang mampu menghiasi ruang-ruang hati.
Deburan ombak dan lambaian nyiur pun pernah mendengar akan keseriusan hasrat. Hiruk pikuknya orang-orang di mall dan di stasiun pernah menyaksikan langkah yang penuh dengan itikad. Segalanya dipertaruhkan untuk dapatnya terjadi penyesuaian-penyesuaian karena memang harus ada yang ditambah dan harus ada yang di kurangi sehingga pas pada posisi…tengah….penyesuaian itu terjadi.
Waktu terus berjalan jarak pun ikut-ikutan membentang, namun semua itu bukan halangan. Hampir tidak bisa di lukiskan satu per satu, peristiwa per peristiwa, cerita per cerita yang meruang lingkupi setiap langkah semua nampak indah nan membahagiakan. Tetapi semua kini hanyalah ke-semu-an dan fatamorgana belaka.
Rasanya jarum jam berhenti sehingga seisi bumi ini rontok…dan…hancur lebur di buatnya. Sepertinya bumi ini berhenti berputar dari porosnya. Tidak ada mendung tidak ada hujan petirpun bersahutan saling mengibaskan ekornya sehingga suaranyapun bersahut-sahutan membuat telinga ini berhari-hari masih merasakan ngiangannya.
Hanya sekedar lewat kecanggihan teknologi semua ini bisa terjadi hingga merah rona wajahnya tak bisa di saksikan oleh siapa-siapa. Terlebih getaran bibirnya nyaris tak bisa memberikan petunjuk apa-apa pula. Semua hanya terdiam…membisu seakan tidak terjadi apa-apa, tetapi semua itu sangat terasa, dada ini terasa sesak, mata ini terasa sanyup, telinga ini terngiang-ngiang tanpa henti, bibir ini tak mampu berucap, hati terasa hampa, fikiran terasa kosong.
Mungkinkah ini akhir dari sebuah cerita. Seribu pertanyaan….sejuta jawaban pun tak mampu mengembalikan semua. Ya Tuhan…Karuniamu begitu Indah…Seindah itu pula aku harus mampu menikmati apapun yang Tuhan berikan.
Deburan ombak dan lambaian nyiur pun pernah mendengar akan keseriusan hasrat. Hiruk pikuknya orang-orang di mall dan di stasiun pernah menyaksikan langkah yang penuh dengan itikad. Segalanya dipertaruhkan untuk dapatnya terjadi penyesuaian-penyesuaian karena memang harus ada yang ditambah dan harus ada yang di kurangi sehingga pas pada posisi…tengah….penyesuaian itu terjadi.
Waktu terus berjalan jarak pun ikut-ikutan membentang, namun semua itu bukan halangan. Hampir tidak bisa di lukiskan satu per satu, peristiwa per peristiwa, cerita per cerita yang meruang lingkupi setiap langkah semua nampak indah nan membahagiakan. Tetapi semua kini hanyalah ke-semu-an dan fatamorgana belaka.
Rasanya jarum jam berhenti sehingga seisi bumi ini rontok…dan…hancur lebur di buatnya. Sepertinya bumi ini berhenti berputar dari porosnya. Tidak ada mendung tidak ada hujan petirpun bersahutan saling mengibaskan ekornya sehingga suaranyapun bersahut-sahutan membuat telinga ini berhari-hari masih merasakan ngiangannya.
Hanya sekedar lewat kecanggihan teknologi semua ini bisa terjadi hingga merah rona wajahnya tak bisa di saksikan oleh siapa-siapa. Terlebih getaran bibirnya nyaris tak bisa memberikan petunjuk apa-apa pula. Semua hanya terdiam…membisu seakan tidak terjadi apa-apa, tetapi semua itu sangat terasa, dada ini terasa sesak, mata ini terasa sanyup, telinga ini terngiang-ngiang tanpa henti, bibir ini tak mampu berucap, hati terasa hampa, fikiran terasa kosong.
Mungkinkah ini akhir dari sebuah cerita. Seribu pertanyaan….sejuta jawaban pun tak mampu mengembalikan semua. Ya Tuhan…Karuniamu begitu Indah…Seindah itu pula aku harus mampu menikmati apapun yang Tuhan berikan.
“Hasbunallah Ni’mal waqiil Ni’malmaulaa Wani’mannasiir”
“Laakhaula Walaakuwwata Illaabillaahil Aliyyil Adhiim”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar